Oleh: BMT AZKA Patuk | 16 Februari 2009

PERANAN ULAMA DALAM SOSIALISAI PERBANKAN SYARIAH

ulamaTak bisa dibantah, bahwa ulama menduduki posisi penting dalam masyarakat Islam. Ulama tidak hanya sebagai figur ilmuan yang menguasai dan memahami ajaran-ajaran agama, tetapi juga sebagai penggerak, motivator dan dinamisator masyarakat ke arah pengembangan dan pembangunan umat. Perilaku ulama selalu menjadi teladan dan panutan. Ucapan ulama selalu menjadi pegangan dan pedoman. Ulama adalah pelita umat dan memiliki kharisma terhormat dalam masyarakat. Penerimaan atau penolakan masyarakat terhadap suatu gagasan, konsep atau program, banyak dipengaruhi oleh ulama.
Peran ulama bukan hanya pada aspek ibadah mahdhah, memberikan fatwa atau berdoa saja, tetapi mencakup berbagai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidik, keamanan dan sebagainya, sesuai dengan komprehensifan ajaran Islam itu sendiri. Membatasi peran ulama pada persoalan agama, fatwa dan akhlak saja, merupakan kekeliruan besar, karena hal itu dipandang sebagai a historis, sebab sejarah peran ulama sangat luas, seluas ajaran Islam yang komprehensif itu pula.
Kualitas dan kapasitas keilmuan yang dimiliki para ulama telah mendorong mereka untuk aktif membimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurut Muhammad Syafi’i Antonio (seorang ulama perbankan Islam Indonesia yang sedang naik daun saat ini), terumuskannya sistem ekonomi Islam secara konseptual, termasuk sistem perbankan syariah adalah hasil ijtihad dan kerja keras intelektual para ulama, dan tentunya hal itu berkat ‘inayah Allah Swt.

Sepuluh peran ulama
Dalam memasyarakatkan perbankan syariah kepada umat, setidaknya ada sepuluh macam peran ulama. Pertama, ulama berperan menjelaskan kepada masyarakat bahwa ajaran muamalah maliyah harus dihidupkan kembali sesuai dengan syariah Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Selama ini sebagian umat Islam memang telah melakukan aktivitas sekonomi maupun mengkaji ilmu ekonomi, tetapi sayang sekali, praktek dan teorinya banyak sekali bertentangan dengan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan kebersamaan (ukhuwah). Realitas itu harus diislamisasikan sesuai dengan prinsip dan konsep ekonomi syariah. Menghidupkan ajaran muamalah setelah melalui modifikasi teknis secara modern, merupakan jalan ke arah pembangunan dan pengembangan ekonomi umat. Aktualisasi muamalah secara modern tersebut diwujudkan dalam bentuk perbankan syariah modern. Asuransi Takaful, Baitul Mal wat Tamwil, Reksadana Syariah, Pegadaian Syariah, Multi Level Marketing Syariah, dsb.
Kedua, ulama juga berperan menjelaskan bahwa keterpurukkan ekonomi umat Islam selama ini di antaranya disebabkan karena umat Islam mengabaikan fiqh muamalah. Kitab Ihya ‘Ulumuddin Al-Ghazali, misalnya hanya digali aspek tasawufnya saja, tidak mengkaji dan menerapkan ajaran ekonominya. Demikian pula ribuan judul kitab-kitab fiqh. Yang menjadi bahasan prioritas para ustadz di masjid, khutbah jum’at, majelis ta’lim adalah mengenai aspek ibadah saja. Padahal sebagainnya berbicara mengenai muamalah. Kalaupun di sekolah tertentu (pesantren misalnya) mempelajari muamalah, sifatnya normatif dan dogmatis, belum dikembangkan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan modern dan perkembangan zaman. Para ulama maupun santri kesulitan untuk menerapkan ajaran fiqh tersebut dalam kehidupan institusi ekonomi modern, seperti perbankan dan asuransi misalnya.
Menurut Ketua Umum MUI Pusat, KH Ali Yafie, “karena umat Islam selama delapan abad mengabaikan ajaran muamalah, maka kondisi ekonomi umat mengalami kemunduran, berkubang dalam kemiskinan dan keterbelakangan dalam kemiskinan dan keterbelakangan. (Majalah Hidayatullah, Januari 1998).
Ketiga, ulama berperan menjelaskan kepada masyarakat bahwa perbankan syariah pada dasarnya adalah pengamalan fiqih muamalah maliyah, fiqih ini menjelaskan bagaimana sesama manusia berhubungan dalam bidang harta, ekonomi, bisnis dan keuangan. Bila umat telah menyadari bahwa membangun dan memasuki bank syariah merupakan ajaran muamalah, maka umat Islam pasti tidak mau lagi memakan riba yang sangat dikutuk Islam dan merupakan dosa besar yang diperoleh dari bank konvensional.
Keempat, mengembalikan masyarakat pada fitrahnya. Menurut fitrahnya, baik fitrah alam dan maupun fitrah usaha, umat Islam adalah umat yang menjalankan syariah dalam bidang ekonomi, seperti pertanian, perdagangan, investasi dan perkebunan, dsb. Budaya demikian, kata Syafi’i Antonio, telah dirusak oleh liberalisasi dunia perbankan, sehingga masyarakat tercemari oleh budaya bunga yang sebenarnya bertentangan dengan fitrah alam dan fitrah usaha. Bahkan ironisnya, karena ketidakberdayaan (maaf) ulama di masa silam, ada di antara ulama membolehkan saja bunga yang dipraktekkan di dalam perbankan. Fitrah alam dan fitrah usaha tidak bisa dipastikan harus berhasil, karena sebuah usaha bisa bisa untung besar, untung kecil, malah bisa rugi. Sedangkan dalam konsep bunga usaha dipastikan berhasil. Padahal yang bisa memastikan hanya Allah (lihat surah Luqman :34, “Seseorang tidak bisa mengetahui (secara pasti) berapa hasil usahanya besok”).
Kelima, mengajak para pengusaha muslim agar mau mengikuti langkah yang ditempuh oleh bank syariah dalam berbagai hasil dan berbagai resiko. Dengan demikian, syiar muamalah Islam melalui perbankan syariah lebih berkembang dan diminati seluruh kalangan.
Keenam, membantu menyelamatkan perekonomian bangsa melalui perkembangan dan sosialisasi perbankan syariah. Krisis ekonomi di penghujung dekade 1990-an menjadikan perekonomian bangsa mengalami kehancuran. Suku bunga terpaksa dinaikkan, agar dana masyarakat mengalir ke perbankan sebagai tambahan darah bagi kehidupan bank. Namun, ternyata kebijakan itu semakin memperparah penyakit perbankan. Perbankan mengalami negative spread yaitu keuntungan minus akibat bunga yang dibayar lebih tinggi dari bunga yang didapat. Kenyataan ini terjadi pada semua bank konvensional, sehingga sebagiannya terpaksa tutup (likuidasi), sebagian lagi dapat rekapitulasi dalam jumlah besar (triliunan rupiah). Bila ulama berhasil mengajak bangsa untuk kembali ke pangkuan syariah, insya Allah, perbaikan ekonomi bangsa, melalui institusi perbankan syariah dapat terobati dan sehat.
Ketujuh, mengajak umat untuk termasuki Islam secara kaffah (menyeluruh), tidak sepotong-potong seperti selama ini. Selama ini masih banyak kaum muslimin yang bergumul secara langsung dengan sistem riba yang diharamkan Al-Qur’an dalam bank konvensional. Menabung atau membuka rekening di bank syariah merupakan sebuah upaya menuju Islam Kaffah. Sehingga kita tidak lagi kapitalis dalam kegiatan ekonomi..
Kedelapan, menjelaskan kepada masyarakat tentang dosa riba yang sangat besar, baik dari nash Al-Qur’an, sunnah, pendapat para filosof Yunani, pakar non muslim, pakar ekonomi Islam, dsb.
Kesembilan, memberikan motivasi kepada masyarakat, khususnya para pengusaha kecil, menengah atau wirausaha, agar mereka memiliki etos kerja yang sangat tinggi, bekerja keras sesuai dengan ridha Allah dan bersifat jujur (amanah) dalam mengelola uang umat.
Kesepuluh, ulama menjelaskan keunggulan-keunggulan sistem ekonomi Islam, termasuk keunggulan sistem bank syariah dari bank konvensional yang menerapkan bunga.. Jadi, ulama sebenarnya mempunyai peran penting dalam pengembangan produk perbankan syariah, karena para ulama umumnya mengusai dan bisa mengajarkan fiqih muamalah, seperti konsep mudharabah, musyarakah, murabahah, ba’i salam, ba’i istisna’, ba’i bit tsamanil ‘ajil, wakalah, kafalah, hiwalah, ijarah, qardhul hasan, dsb.
Pada level international maupun nasional di Jakarta misalnya, peran ulama dalam pengembangan dan sosialisasi perbankan dan sosialisasi perbankan syariah cukup besar, tidak seperti yang terjadi di Sumatera Utara, peran ulama boleh dibilang masih kecil. Kalaupun ada Dewan Pengawas Syariah yang berasal dari ulama, perannya hampir tidak ada, fatwa-fatwa tentang produk semuanya merujuk pada fatwa Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat di Jakarta. Di Jakarta, misalnya, para ulama yang berkompeten terhadap hukum-hukum syariah memiliki fungsi dan peran yang amat besar dalam perbankan syariah, yaitu sebagai Dewan Pengawas Syariah dan Dewan Syariah Nasional.
Peran utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalanya operasional bank sehari-hari, agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hal ini karena transaksi-transaksi yang berlaku dalam bank syariah sangat khusus jika dibandingkan dengan bank konvensional.
Dewan Pengawas Syariah harus membuat pernyataan secara berkala (biasanya setiap tahun) bahwa bank yang diawasi telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. Pernyataan ini dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bank syariah tersebut. Tugas lain dari Dewan Pengawas ialah meneliti dan membuat rekomendasi produk baru dari bank yang diawasinya (Antonio, Bank Syariah : 284:1999).
Peran riel paran ulama terlihat pada usaha mendirikan berdirinya Bank Muamalat Indonesia, Asuransi Takaful Syariah, mendirikan Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) yang aktif menumbuhkan Baitul Mal wat Tamwil.
Sebagai penutup, kita berharap banyak, peran ulama yang cukup besar dalam pengembangan dan sosialisasi lembaga ekonomi umat, khususnya perbankan syariah, sebagaimana yang diutarakan di atas, hendaknya dapat diperankan pula oleh para ulama di pulau Sumatera ini, khususnya di Sumatera Utara, sehingga upaya pembangunan dan pengembangan ekonomi bangsa dapat berhasil dan berjalan dengan sukses. Amiiin.
oleh..agustianto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: