Oleh: BMT AZKA Patuk | 23 Februari 2009

Ponari Cermin Tertundanya Keadilan Ekonomi

Oleh: Agus Yuliawan, Wartawan Kantor Berita Ekonomi Syariah

ponariBerita keajaiban seorang anak dengan nama Mohamad Ponari (9 tahun) warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dalam sepekan ini menghebohkan Jawa Timur dan masyarakat Indonesia. Diperkirakan puluhan ribu orang berduyun-duyun mendatangi rumah ponari untuk mendapatkan sentuhan batu miliknya yang mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan permasalahan hidup masyarakat.
Akibat setiap hari orang yang datang bertambah banyak, akhirnya pemerintah Jawa Timur beserta jajaran aparat keamanan menutup alokasi praktek Ponari dengan alasan menjauhkan masyarakat dari budaya syirik yang dilarang agama.
Meski Pemda telah menginstruksikan himbaun tersebut serta mengevakuasi si anak ajaib dari rumahnya, tetap saja massa yang masih berkerumun dirumah Ponari tak mau pergi, bahkan mereka   mengambil air serta tanah disekitar rumah Ponari untuk dibawa pulang sebagai obat.
Menyimak antusias masyarakat melakukan itu, secara kasat mata pasti kita semua mengungkapkan, kenapa ditengah modernisasi dan tingginya kepercayaan agama,  masyarakat menyakini apa yang dilakukan oleh Ponari.
Tapi, jika kita runut secara dalam sebenarnya masyarakat tak salah untuk berobat pada Ponari. Apalagi ditengah keterhimpitan mereka dalam permasalahan ekonomi, tingginya biaya berobat di rumah sakit, dan tingginya harga obat-obatan  telah  mengakibatkan tingkat kesadaran masyarakat hilang. Akhirnya hal ini yang membuat masyarakat mencari alternatif-alternatif yang mampu memberikan solusi. Hadirnya Ponari sesuai dengan momentum mereka  saat  kemiskinan itu terjadi secara struktural.
Kejadian Ponari telah memberikan fakta yang jelas bagi kita semua, teryata ada sebuah penundaan dalam memberikan keadilan ekonomi pada masyarakat yang selama ini harus diberikan oleh pemerintah.
Maka dibalik kasus Ponari ini ada sebuah refleksi bagi negara untuk bertanggung jawab dalam menyelenggarakan  kesejahteraan masyarakat. Untuk itu pembenahan ekonomi yang mendorong pertumbuhan sektor riil masyarakat harus menjadi prioritas pemerintah saat ini. Minimal pertumbuhan ekonomi mendorong pengurangan jumlah pengangguran masyarakat dan terjadinya peningkatan pendapatan perkapita.
Selama hal itu tak dilakukan oleh pemerintah—kesadaran masyarakat terhadap logika berfikir dan beragama semakin absurt,  budaya syirik dan kekufuran masyarakat akan terus berkembang pesat.  Sosok Ponari bukan hanya di Jawa Timur saja, tapi Ponari akan muncul didaerah mana-mana.
Sekali lagi untuk mencegah kejadian itu ada dimana-mana dan agama tetap menjadi tujuan hidup, pemerintah harus dengan cepat mengimplementasikan keadilan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Keadilan ekonomi tak perlu ditunda-tunda lagi oleh pemerintah dengan pemerataan pembangunan. Begitu pula dengan para agamawan, bukan hanya sekedar menyuarakan tentang simbolisasi agama saja. Tapi esensi agama dan aktualisasi nilai terus diwujudkan dalam ranah kemanusian dan keadilan. Sepanjang ini dilakukan oleh agamawan, maka  bentuk-bentuk syirik akan semakin jauh.
Untuk itu relelasi antara pemerintah dan agama akan menjadi harapan masyarakat selama sama-sama memberikan pengaruh terwujudnya kemanusiaan dan keadilan.


Responses

  1. Semoga bangsaku tidak semakin jauh dari kebenaran dan cara berpikir yang aneh-aneh. Yang penting, harus segera dilakukan PENCERAHAN secara holistik. amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: